Tuesday, 20 October 2015

Candi Dwarawati
Candi Dwarawati Dieng
Losmen Budjono Dieng || Dataran tinggi dieng banyak menyuguhkan tempat-tempat wisata alam yang unik dan juga banyak peninggalan-peninggalan candi hindu dimasa zaman dinasti sanjaya yang merupakan candi hindu yang tertua di pulau jawa, kali ini kita fokus membahas tentang Candi Dwarawati Dieng yang terletak di pinggir desa Dieng Kulon, kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara.

Kelompok Dwarawati terdiri atas 4 candi, yaitu Candi Dwarawati, Candi Abiyasa, Candi Pandu, dan Candi Margasari. Akan tetapi, saat ini yang berada dalam kondisi relatif utuh hanya satu candi, yaitu Candi Dwarawati.
Baca Juga : Candi Setyaki Dieng
Candi Dwarawati. Bentuk Candi Dwarawati mirip dengan Candi Gatutkaca, yaitu berdenah dasar segi empat dengan penampil di keempat sisinya. Tubuh candi berdiri di atas batur setinggi sekitar 50 cm. Tangga dan pintu masuk, yang terletak di sisi barat, saat ini dalam keadaan polos tanpa pahatan.

dwarawati2_Fifi.jpg
Pada pertengahan dinding tubuh candi di sisi utara, timur dan selatan terdapat semacam bilik penampil yang menjorok keluar membentuk relung tempat meletakkan arca. Bagian atas relung melengkung dan meruncing pada puncaknya. Ambang relung dihiasi pahatan bermotif bunga yang sederhana. Demikian juga sisi atas dinding bilik penampil. Ketiga relung pada dinding tubuh candi tersebut saat ini dalam keadaan kosong tanpa arca.
dwarawati4_Fifi.jpg
dwarawati3_Fifi.jpg
Sepintas candi ini juga terlihat seperti bangunan bertingkat, karena bentuk atapnya dibuat sama dengan bentuk tubuh candi. Di keempat sisi atap terdapat relung tempat meletakkan arca. Saat ini, relung-relung tersebut juga dalam keadaan kosong. Puncak atap sudah tak tersisa lagi sehingga tidak diketahui bentuk aslinya. Di halaman depan candi terdapat susunan batu yang mirip sebuah lingga dan yoni.


Begitulah sekilas tentang Candi Dwarawati Dieng semoga bisa menambah wawasan tentang sejarah tentang candi hindu tertua di pulau jawa ini, like and share yah sobat semuanya, terima kasih sudah berkunjung di Losmen Budjono Dieng.

Thursday, 15 October 2015


Peninggalan Kebudayaan pada Masa Dinasti Sanjaya di Dataran Tinggi Dieng Jawa Tengah selain komplek Candi Arjuna juga terdapat komplek Candi Gatotkaca yang terdiri 6 bangunan candi , komplek Candi Bima , dan komplek Candi Dwarawati. Sebelah barat komplek candi arjuna terdapat Candi Setyaki yang lain susunan dan bentuk candi berbeda dengan candi-candi yang ada di sekitar dataran tinggi Dieng, Candi Setyaki sendiri atasnya berlubang juga atasnya tidak mengerucut yang pada umumnya candi hindu kebanyakan mengerucut ke atas.


Candi Setyaki di dataran tinggi Dieng jarang sekali dikunjungi oleh para wisatawan dikarenakan tempatnya menyendiri dari area komplek candi arjuna yang merupakan candi utama yang ada di Dieng. Di sebelah bagian utara dari Candi Setyaki juga terdapat Batu Umpak - Umpak yang di perkirakan sebagai bangunan Darmasala yang jaman dulu digunakan untuk tempat peristirahatan sementara.



Tidak jauh dari Situs Candi Setyaki terdapat pula Situs Batu Lingga patok yang berada di areal Pertanian yang di gunakan sebagai daerah Sima atau Simbol dari Tanah Perdikan.
Dan adanya Situs Gangsiran Purba yang di buat oleh masyarakat Hindu Kuno di Dieng sebagai tempat saluran pembuangan air bawah tanah untuk mengeringkan kawasan Candi Arjuna yang pernah terendam luapan air dari Telaga BaleKambang yang berada di sebelah selatan Candi tersebut.
Dari beberapa situs- situs yang ada di dataran tinggi Dieng menunjukan adanya sebuah Peradaban masyarakat Hindu kuno yang pernah mendiami Bumi Dieng di masa kejayaan Wangsa Sanjaya
Wisata Sejarah di Candi Setyaki kita akan di ajak menelusuri dan belajar mengali informasi dari bentuk Arsitektural kuno dengan Ragam Hias atau Ornamen - Ornamen  yang ada di setiap bagian Candi Setyaki.

Friday, 9 October 2015



Goa Semar Dieng terletak di  area dekat telaga warna dan telaga pengilon yang berada di dataran tinggi dieng, Goa semar merupakan goa sang pamomong. Ungkapan itu tidaklah berlebihan karena di goa ini sejak dahulu sudah terkenal sebagai goanya para sang pemimpin. 

Mantan Presiden Soekarno dan Soeharto pernah mengunjungi goa ini untuk bersemedi. Goa ini juga diincar calon presiden atau penguasa yang ingin maju ke tambuk kekuasaan. Goa Semar juga goa induk dan juga Kebanyakan goa yang ada di Dieng memang masih digunakan sebagai lokasi untuk bersemedi dan bertapa. Goa dipercaya sebagai salah satu media alternatif yang digunakan oleh beberapa orang sebagai tempat menyampaikan segala keluh kesah diri kepada Yang Maha Kuasa. Dengan segala misteri yang ada, Goa ini juga menjadi salah satu tempat wisata di Dieng yang sering dikunjungi wisatawan.
Selain sejarah dan kemistisannya, Goa Semar ini merupakan goa yang letaknya paling tinggi di Dataran Tinggi Dieng. Meskipun, ukuran dari Goa Semar ini tidaklah begitu luas. Ukuran Goa Semar ini hanya 4 meter persegi

Wednesday, 7 October 2015

Tuk Bimo Lukar diyakini bisa menjadikan awet muda

Dieng adalah kawasan dataran tinggi yang berada di Propinsi Jawa Tengah, yang wilayah dibagi dua antara Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Letaknya berada di sebelah barat Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.
Dieng merupakan kawasan vulkanik aktif dan dapat dikatakan merupakan gunung api raksasa dengan beberapa kepundan kawah. Ketinggian rata-rata di dataran tinggi Dieng antara 2.500 m di atas permukaan laut. Suhu berkisar 15-20°C di siang hari dan 10°C di malam hari. Pada musim kemarau (Juli dan Agustus), suhu udara dapat mencapai 0°C di pagi hari dan memunculkan embun beku yang oleh penduduk setempat disebut bun upas ("embun racun") karena menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian biasanya menyerang tanaman kentang di daerah tersebut.




Di dataran tinggi Dieng tepatnya dekat pertigaan masuk desa Dieng ada sumber mata air yang berasal dari Gunung Prau yang merupakan hulu sungai dari Sungai Serayu namanya Tuk Bimo Lukar. Tuk Bimo Lukar ini adalah Mata air Suci bagi umat Hindu Kuno Dieng. Nama Bimo Lukar sendiri di ambil dari kata Bimo dan Lukar, Bimo artinya nama salah satu satu tokoh dari Pandawa sedangkan Lukar artinya busana. Menurut legenda cerita nama Bimo Lukar berarti sebagai tempat dimana tempat sang tokoh Pandawa yaitu Bimo Seno melukar (melepas) pakaiannya untuk disucikan. Tuk Bimo Lukar tersebut terbuat dari batu jaman purba yang disimbolkan dengan batu lingga (bentuknya menyerupai alat kelamin pria) dan Yoni sebagai yang digunakan sebagai penampung air nya (berbentuk seperti alat kelamin wanita).

Menurut cerita rakyat kuno air dari Tuk Bimo Lukar diyakini bisa menjadikan awet muda apabila seseorang telah mencuci muka nya di Tuk Bimo Lukar tersebut.
Tapi sekarang ini objek wisata tersebut mulai diterlantarkan, para wisatawan lebih memilih objek wisata yang lagi hits sekarang ini yaitu gunung prau sama bukit sikunir.

Monday, 5 October 2015

Telaga Merdada Dieng

Sebuah peninggalan penuh legenda dari Dataran Tinggi Dieng. Terletak 4 kilometer dari Dieng, Telaga Merdada dahulu merupakan kepundan (kawah gunung berapi) yang kemudian terisi air. Luas telaga ini diperkirakan 20 ha dengan kedalaman 25 meter.

Legenda

                Berdasarkan kisah yang berkembang di penduduk setempat, kata Merdada diambil dari nama bagian bawah cupu manik Astagina, Madirda.

                Adalah seorang resi yang sakti mandraguna bernama Resi Gautama. Dia mempunyai 2 orang putra kembar, Guwarso & Guwarsi, serta seorang putri berparas jelita bernama Dewi Anjani. Pada suatu hari, dua orang putra kembarnya berburu di hutan. Setelah lama berburu di tengah lebatnya rimba belantara, akhirnya mereka berhasil mendapatkan seekor rusa. Dengan hati penuh kegembiraan mereka membawa pulang hasil buruan tersebut untuk diberikan kepada adik mereka.  Mereka berharap adiknya akan senang menerima rusa itu.

                Jauh dari perkiraan Guwarso dan Guwarsi, Dewi Anjani tampak kurang tertarik dengan rusa yang mereka bawa. Adiknya justru memilih mengurung diri di kamar daripada bermain-main dengan rusa. Hal yang sangat aneh mengingat Dewi Anjani sangat senang pada rusa. Didorong rasa penasaran terhadap sikap adiknya yang lain dari biasanya, si kembar mengendap-endap mengikuti Dewi Anjani ke kamarnya. Secara diam-diam mereka mengamati apa yang dilakukan adiknya tersebut.

                Di dalam kamar Dewi Anjani mengeluarkan sebuah  benda yang dibungkus kain putih dan memendarkan cahaya keemasan. Dewi Anjani memperhatikan benda berpendar yang tak lain adalah sebuah cupu, cupu manik Astagina. Konon, apabila bagian bawah cupu ini dibuka maka akan terlihat terlihat segala isi dunia. Sedangkan apabila tutupnya yang dibuka, akan terlihat segala sesuatu yang terjadi di Sorga Loka.

                Sebenarnya, yang berhak menerima cupu ini sebagai harta warisan adalah salah seorang dari putra kembar itu. Mengetahui hal tersebut, maka dua saudara kembar tersebut berusaha untuk merebutnya dari Dewi Anjani. Perebutan antara si Kembar dan Dewi Anjani akhirnya diketahui oleh ayah mereka.

                Resi Gautama memanggil isterinya dan menanyakan asal dari cupu manik itu. Istrinya tidak menjawab. Dia merahasiakan asal muasal cupu yang sebenarnya merupakan pemberian seorang dewa yang jatuh cinta kepadanya. Dia teringat pada pesan Dewa yang menyuruhnya merahasiakan asal cupu manik.

                Kesal dengan sikap istrinya yang seolah menyembunyikan sesuatu, Resi Gautama murka dan mengutuk istrinya menjadi tugu batu. Kemudian cupu itu dilemparkan ke udara. Cupu bagian bawah (Madirda) jatuh ke bumi dan muncullah Telaga Merdada. Sementara bagian tutupnya yang bernama Dlingo jatuh di atas Kawah Candradimuka dan membentuk sebuah telaga yang hingga sekarang dikenal dengan nama Telaga Dlingo. Arca batu yang merupakan jelmaan dari istri sang Prabu turut dilempar dan terjatuh di tepi telaga Merdada.

                Dikisahkan pula, Raden Guwarso dan Guwarsi dalam perjalanannya mencari cupu manik Astagina, akhirnya sampai di tepi Telaga Merdada. Pendar keemasan yang terpancar dari dalam Telaga Merdada memancing kesimpulan dalam benak mereka bahwa cupu tersebut jatuh ke dalam Telaga. Maka, tanpa berpikir panjang mereka langsung terjun ke telaga.

                Berjam-jam di dasar Telaga, namun tetap nihil. Cupu tersebut tidak ditemukan di dasar Telaga. Setelah lelah, keluarlah dua saudara kembar tersebut dari dalam Telaga. Sekeluarnya mereka dari dalam Telaga, terkejutlah mereka ketika melihat wajahnya yang berubah menjadi kera. Peristiwa serupa juga dialami oleh Dewi Anjani, wajahnya yang cantik jelita berubah menjadi kera.

                Peristiwa yang dialami oleh dua saudara kembar serta Dewi Anjani diyakini sebagai akibat dari kenakalan serta kerakusan mereka. Hingga saat ini, hal tersebut menjadi sebuah pesan moral yang terpelihara secara turun temurun di Desa Karangtengah. Bila kita berkesempatan berjalan-jalan di sekitar Desa Karangtengah, tidak jarang kita temui orang tua yang meneriakkan kata ‘dadi kethek’ sebagai sebuah peringatan kepada anak-anaknya agar tidak nakal dan tetap patuh pada nilai-nilai luhur. Kethek atau dalam bahasa Indonesia berarti Kera, merupakan lambang keburukan yang patut dihindari.

                Sementara itu, cupu manic Astagina yang telah berubah menjadi Telaga, hingga sekarang masih memancarkan pendar keemasan dalam waktu-waktu tertentu. Konon, apabila seseorang duduk di tepi Telaga, akan dipermudah segala urusannya serta mendapat pencerahan.


Arca Dewi

Picture
        Arca Dewi yang dalam legenda merupakan jelmaan istri Resi Gautama, hingga sekarang masih berdiri kokoh di tepi telaga Merdada, tepatnya di atas bukit sebelah timur Telaga Merdada. Arca batu tersebut seakan melambangkan seorang istri yang tidak patuh kepada suaminya. Bila kita ingin menyaksikan bagaimana rupa sang Ratu, kita harus menaiki bukit dengan lintasan yang cukup sulit. Namun, kesulitan tersebut akan terbayarkan ketika kita sampai di atas. Dari sisi tenggara Arca, kita dapat menyaksikan batu berbentuk kepala dengan mahkotanya. Benar-benar terlihat sebagai jelmaan seorang Ratu. Tak hanya itu, dari puncak bukit kita dapat menyaksikan pesona Telaga Merdada yang berbentuk cekungan dengan bukit hijau di sekitarnya. Panorama yang sangat indah dengan terpaan angin sejuk yang menentramkan. Bila kita haus atau merasa lelah, kita dapat memetik carica langsung dari ladang di sisi bawah Arca Dewi. Kesegaran rasa asam carica dapat menghilangkan haus sekaligus menjadi suplai energy untuk dapat menikmati berbagai keindahan di setiap sudut telaga Merdada.

Batu Tumpeng

            Tidak jauh dari Arca Dewi, batu tumpeng terletak di atas bukit sisi timur Telaga Merdada. Batu ini merupakan pemisah antara Telaga Merdada dan bukit Sitalang. Disebut batu tumpeng karena bentuk batu ini menyerupai nasi tumpeng yang biasa disajikan dalam berbagai perayaan.

Gua Mushola

            Sebagai sebuah fenomena bentukan alam, gua ini memiliki ketinggian 500m dari bibir Telaga Merdada. Dinamai gua Mushola karena gua ini sering menjadi tempat para wisatawan menunaikan ibadah salat ketika mereka mendaki puncak Arca Dewi. Gua Mushola termasuk dalam jajaran gua tertinggi di Dieng dengan mulut gua menghadap langsung ke Telaga Merdada. Sisi muka gua yang berbentuk lapang dengan naungan pohon hijau membuat tempat ini layak sebagai tempat istirahat sebelum melanjutkan perjalanan hingga ke pucak Arca Dewi.

Pesanggrahan

            Pesanggrahan atau yang sekarang lebih terlihat sebagai gardu pandang, terletak di sebelah utara lapangan parkir. Sebelum disulap menjadi gardu pandang,  tempat ini pernah disinggahi Raden Suwiryo (Adipati Kolopaking) yang merupakan Adipati Banjarnegara untuk mencoba kesaktiannya (nguji kanuragan). Pada saat itu beliau menjajal kesaktiannya dengan mengambil air dari Telaga Merdada menggunakan keranjang tanpa ada setetes air yang tumpah. Sejak saat itu, tempat ini disebut sebagai pesanggrahan yang artinya ‘disinggahi’. Dan hingga saat ini pula, tempat ini sering digunakan sebagai tempat para petinggi atau pemimpin daerah untuk singgah dan beristirahat.

Makam Raden Mangkuyuda dan Natayuda

DiengPicture Desa karang tengah merupakan desa di kawasan dataran tinggi dieng. Beragam potensi wisata dan pertanian dimiliki oleh desa ini. Selain panorama alamnya yang sangat menawan, Desa karang tengah memiliki warisan kultural yang tidak ternilai harganya. Warisan ini berupa makam. Masyarakat sekitar akrab dengan istilah punden atau pepunden untuk menyebut makam ini.


Dalam kompleks pemakaman ini hanya terdapat dua makam. Masyarakat meyakini bahwa tokoh yang dimakamkan adalah Raden Mangkuyuda dan Raden Natayuda. Sebenarnya masyarakat tidak mengenal secara personal terhadap kedua tokoh tersebut. Hal ini disebabkan oleh terlalu jauhnya masa ketika tokoh itu hidup dengan masa sekarang ini. Masyarakat meyakini tokoh ini sebagai tokoh yang melakukan babad alas di kawasan dieng dan mengembangkan potensi pertanian di kawasan dieng. Untuk itu, sangat penting mengenal figur Raden Mangkuyuda dan Raden Natayuda yang berjasa di masa lalu di kawasan dieng.

          Dalam waktu dekat ini masih dilakukan penelitian secara historis oleh beberapa mahasiswa jurusan sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM) terhadap tokoh Raden Mangkuyuda dan Raden Natayuda. Upaya tersebut dilakukan untuk mengetahui lebih dalam siapa tokoh ini sebenarnya? Seberapa besar pengaruhnya terhadap perkembangan kawasan dieng? Seperti apa perjalanan hidupnya?

          Terdapat salah satu literatur berjudul Asalsilahipun poro Noto Susunan yang ditulis oleh G.R.AY. Brata Diningrat yang memaparkan bahwa Raden Mangkuyuda dan Raden Natayuda merupakan keturunan silsilah dari Tumenggung Mangkurat (putra dari sultan Trenggono). Hal ini menjadi semacam titik cerah untuk mencari sumber-sumber terkait yang dapat menjelaskan keberadaan kedua tokoh tersebut. Kemungkinan sumber-sumber mengenai kedua tokoh tersebut dapat diperoleh dari arsip Kraton Kasunanan. Dalam literatur ini menjelaskan bahwa Raden Mangkuyuda dan Raden Natayuda dimakamkan di karang tengah.

           Hal yang menjadikan menarik ialah makam ini masih bertahan pada masa sekarang ini. Masyarakat sekitar terutama masyarakat desa karang tengah memiliki peran penting menjaga kelestarian makam ini. Apabila dinilai dari undang-undang yang terkait dengan situs bersejarah, seharusnya makam ini sudah menjadi tanggung jawab pemerintah untuk turut serta melestarikan makam ini sebagai situs sejarah. Layaknya situs sejarah lainnya seperti candi-candi peninggalan zaman hindu-budha.

           Hal menarik lainnya, masyarakat sekitar merasa dekat dengan kedua tokoh ini. sebagian masyarakat bertemu dengan tokoh ini melalui mimpi. Tokoh ini selalu mengingatkan untuk menjalankan syariat islam dan mengingatkan untuk tetap di jalan allah. Dari sekitar tahun 50an mulai banyak orang berziarah ke makam ini sebagai wujud penghormatan terhadap jasa-jasanya di wilayah dataran tinggi dieng di masa lalu. Setiap bulan syuro, makam ini selalu didatangi banyak peziarah dari berbagai tempat, terutama masyarakat dataran tinggi dieng untuk memperingati khol atau semacam bentuk peringatan kepada kedua tokoh ini. peringatan ini hampir sama dengan budaya jawa lainnya seperti nyadran.

          Intinya tetap mendoakan orang yang sudah meninggal dan menghormati jasa-jasa orang yang sudah meninggal di masa lalu. Biasanya peziarah melantunkan bacaan-bacaan Al-fatihah, wirid, surat yasin, dan bermunajat kepada allah. Masyarakat islam masih sangat menghormati tradisi ziarah dengan mendoakan orang-orang yang sudah meninggal. Pada dasarnya budaya ziarah terhadap orang yang sudah meninggal dianjurkan dalam sunnah rosul.

          Dalam memori kolektif masyarakat desa karang tengah, Sukarno (presiden RI yang pertama) pernah sesekali berziarah ke makam ini. Selain itu, sebagian besar masyarakat dieng menempuh pendidikannya di pesantren. Santri-santri ini kecenderungan masih menjalankan tradisi ziarah. Hal ini menunjukan bahwa tradisi ziarah masih berlangsung hingga masa sekarang ini.

          Makam Raden Mangkuyuda dan Raden Natayuda terletak di tepi jalan batur yang menghubungkan dieng dengan kecamatan Batur. Makam ini berjarak 2 km dari kompleks candi arjuna dan dapat ditempuh sekitar 10 menit. Selain itu, makam ini sangat berdekatan dengan wisata alam telaga merdada yang terletak di wilayah desa karang tengah. Apabila hendak melintas desa karang tengah, dari kejauhan tampak terlihat kumpulan pepohonan yang menjulang sangat tinggi seperti membelah dinginnya langit di dataran tinggi dieng. Hal ini dikarenakan makam ini dikelilingi pepohonan yang sangat besar. Banyak terdapat varietas pepohonan di sekitar makam.

           Pohon yang tergolong langka yang terletak di area makam adalah pohon puspa. Belum diketahui secara pasti berapa umur dari pohon puspa ini. pohon puspa di komplek makam ini tingginya sekitar 25 m. Hal ini menambah keheningan hati para peziarah ketika berziarah di makam ini. Di waktu sore tampak kabut yang menyangkut dahan-dahan pohon puspa. Hal ini menjadi keindahan tersendiri di komplek makam Raden Mangkuyuda dan Raden Natayuda di saat sore hari.

          Panitia pelestarian makam Raden Mangkuyuda dan Raden mangkuyuda terus melakukan perbaikan infrastruktur dan mengadakan kegiatan-kegiatan positif seperti wirid bersama di kompleks makam, membersihkan area makam, dan melestarikan pohon-pohon langka di sekitar makam.

          Adapun tujuan jangka panjangnya, kompleks makam Raden Mankuyuda dan Raden Natayuda menjadi tujuan wisata ziarah bagi peziarah-peziarah dari berbagai kota, seperti halnya makam raja-raja mataram di plered, makam-makam para walisanga, makam raja-raja demak, makam para kyai di gunungpring Muntilan, dll. Jadi bukan hanya masyarakat dieng saja yang berziarah di kompleks makam ini. Untuk itu, di sekitar wisata alam telaga merdada dan makam Raden Mangkuyuda dan Raden Natayuda sudah disiapkan beberapa homestay. Masyarakat desa karang tengah pun sudah memiliki kesiapan sebagai desa wisata.
Sumber dari Desa Karangtengah

 Keindahan Curug Sikarim Dieng

Berwisata di  dataran tinggi dieng memang  kaya dengan pesona alam yang tak akan ada habisnya juga tak di temukan di daerah lain selain wisata sejarah, seni dan budaya , serta keanekaragaman wisata alam seperti gunung prau, bukit sikunir, telaga warna, kawah sikidang, sumur jalatunda, dan air terjun atau sering di sebut sebagai curug.
Keindahan Curug Sikarim Dieng Merupakan kawasan wisata yang jauh dari permukiman penduduk, namun demikian obyek wisata menawarkan sisi keindahan berupa latar berbukit yang menjulang yang sekitarnya banyak ditumbuhi tumbuhan langka yaitu Pakis Galar.

Gemuruh suara air terjun curug Sikarim, mampu menentramkan kepenatan yang ada, ditambah lagi udara sejuk dan pemandangan yang begitu elok. Tak sedikit pengunjung yang enggan meninggalkan air terjun Sikarim, pasalnya pengunjung disuguhi beraneka ragan pesona alam yang begitu memukau.

Sedangkan akses menuju curug Sikarim dapat melalui jalur garung Wonosobo maupun jalur Sembungan. Saat ini belum ada transportasi yang menuju Curug Sikarim Dieng. Karena letaknya yang jauh dari permukiman penduduk menyebabkan obyek wisata ini masih asri dan belum banyak terjamah.
Biasanya setelah melihat Matahari Terbit di atas Bukit Sikunir , Telaga Cebong, dan di lanjutkan ke Curug Sikarim Dieng yang letaknya di bawah Desa Sembungan dan bisa di tempuh dengan waktu sekitar 2 jam perjalanan untuk menuju ke lokasi Wisata Alam Curug Sikarim Dieng tersebut.
Selama perjalanan menuju air terjun sikarim kita juga di ajak menikmati keindahan danau menjer serta perkebunan teh di sepanjang perjalanan menuju ke dataran tinggi dieng. Perjalanan wisata hiking ke curug sikarim Dieng akan lebih nyaman dan aman bila di dampingi oleh pemandu wisata lokal dieng dengan divisi guide khusus trekking.

Sunday, 4 October 2015

Keunikan Sumur Jalatunda Dieng

Perjalanan menjalajahi pesona keindahan alam Dataran Tinggi Dieng berlanjut menyusuri sisi barat kawasan deretan pegunungan di bagian tengah Pulau Jawa ini. Obyek wisata pertama yang saya kunjungi adalah Sumur Jalatunda, sumur tua yang terkenal dengan beraneka macam mitosnya. Akses jalan menuju Sumur Jalatunda sudah cukup baik, jalan dengan aspal yang halus diselingi dengan kontur yang berliku khas daerah pegunungan. Pemandangan sepanjang perjalanan pun tidak membosankan, hamparan perkebunan milik warga dan juga kanal pengolahan panas bumi milik PT Geodipa siap mengundang decak kagum.

Secara administrarif Sumur Jalatunda terletak di Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Walaupun terdapat embel-embel nama sumur, jangan harap Anda akan menemukan wujud sumur dalam arti yang sebenarnya. Menurut sejarahnya, Sumur Jalatunda merupakan sebuah kepundan yang terbentuk dari letusan gunung berapi jutaan tahun yang lalu. Kepundan tersebut terisi oleh air hujan dan kemudian membentuk sebuah sumur. Sumur Jalatunda memiliki diameter sekitar 90 meter dengan kedalaman ratusan meter. Pemberian nama Jalatunda sendiri konon diambil dari kosa kata Bahasa Jawa yang berarti sumur yang luas atau besar.
Untuk menikmati wujud dari Sumur Jalatunda, kita harus menaiki beberapa anak tangga dari arah parkiran kendaraan. Di sekitar anak tangga tumbuh subur bunga sedap malam dengan pemandangan hamparan perkebunan luas yang mengitarinya. Setelah menaiki beberapa anak tangga sampilah di sebuah pendopo, nah persis di samping pendopo tersebut kita akan melihat wujud dari Sumur Jalatunda. Sumur Jalatunda merupakan sebuah lubang vulkanik berukuran sangat besar berisi air yang berwarna kehijauan.


Ada sebuah mitos unik yang sangat melegenda di Sumur Jalatunda ini. Barang siapa yang mampu melempar batu kerikil pada jarak tertentu maka keinginan yang bersangkutan akan terkabul. Bagi yang melempar adalah pria, maka lemparannya harus sampai dengan seberang sumur, sedangkan bagi wanita cukup sampai dengan bagian tengah sumur. Keberadaan mitos ini dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk berjualan batu kerikil untuk dilemparkan ke sumur oleh pengunjung. Selain menjual batu, penduduk ini juga akan senang hati menceritakan kisah dan juga mitos mengenai Sumur Jalatunda ini, dengan catatan Anda harus pintar-pintar memancing obrolan dengan mereka ya. Banyak pengunjung yang gagal melempar batu sampai pada jarak yang ditentukan. Penjelasan secara ilmiah sih, lemparan batu tidak sampai pada tujuan karena adanya gaya gravitasi yang mempengaruhi. Entah benar atau tidak mitos tersebut, namun jika ditarik sebuah kesimpulan, keinginan manusia itu akan terwujud jika dia memiliki niat, tekat yang kuat, serta usaha yang keras untuk mewujudkan keinginannya tersebut.

Selain sebagai obyek wisata alam, Sumur Jalatunda  ini juga dijadikan sebagai obyek wisata spiritual. Di sudut dekat tangga, terdapat bekas pemujaan berupa dupa dan juga sesaji. Menurut si penjual batu kerikil yang sekaligus merangkap sebagai pemandu, Sumur Jalatunda ini juga dijadikan sebagai salah satu tempat untuk bersemedi atau dalam bahasa Jawa disebut nglakoni. Konon katanya Sumur Jalatunda ini merupakan salah satu pintu gerbang untuk menuju dunia lain. Sumur Jalatunda ini menurut mitosnya juga kerap meminta korban nyawa dalam kurun waktu tertentu. Si pemandu bercerita bahwa sekitar bulan Juni 2012 lalu terdapat korban jiwa yaitu seorang lansia yang tercebur ke dalam sumur. Menurut penuturan si pemandu, lansia tersebut tidak bisa berjalan, entah ada dorongan magis apa sehingga lansia tersebut dapat menuju Sumur Jalatunda dan masuk ke dalamnya.

Sumur Jalatunda memang tersohor dengan legenda dan mitosnya yang berkembang sehingga banyak pengunjung yang penasaran untuk mencoba peruntungan mereka dengan melempar batu kerikil di sumur ini. Entah mitos tersebut benar atau tidak, Dieng memang memiliki potensi wisata yang unik dan menarik.

Hubungi Kami

Kelik Alamsyah 085 226 645 669 Aman Santoso 081 227 114 655 Edwin Adi Kurniawan 085 602 045 549
Powered by Blogger.

Popular Posts