Wednesday, 4 November 2015




Losmen Budjono Dieng || Bicara soal daerah Dieng, Jawa Tengah tidak terlepas dari kekayaan panorama keindahan alam dan sejarah. Maka tidak heran jika Dieng terkenal hingga ke mancanegara karena daya tarik tersebut. Namun selain itu, Dieng juga dikenal dengan daerah yang memiliki tumbuhan Purwaceng. Purwaceng sendiri merupakan tumbuhan liar yang tumbuh di dataran tinggi atau pegunungan. Dan kabarnya Purwaceng ini hanya ada di daerah Dieng saja loh, yang terkenal dengan udara dinginnya.


Purwaceng bisa diolah sebagai minuman herbal seperti jamu. Dan berkhasiat untuk menghangatkan badan. Tapi yang lebih populer khasiat Purwaceng untuk menambah stamina kaum pria dewasa di atas ranjang. Hal ini pun dibenarkan oleh seorang pria asal Wonosobo R (28). Menurut pengakuannya, setelah minum Purwaceng dirinya merasa tubuhnya hangat dan segar. Akan tetapi untuk urusan di ranjang bersama istri tercinta dia pun kurang merasakan. "Saya pernah coba Purwaceng tapi kurang begitu merasakan khasiat 'staminanya' mungkin karena hanya sekali saja," ungkapnya beberapa waktu lalu. Dia menuturkan, agar khasiat Purwaceng penambah stamina pria manjur harus rutin minum selama satu minggu. "Harusnya minum teratur selama seminggu, baru bisa merasakan khasiat tersebut," katanya. Katanya, warga asli Dieng sendiri malah jarang minum jamu tersebut. Purwaceng lebih diburu oleh wisatawan-wisatawan yang berkunjung ke Dieng.

Tuesday, 3 November 2015



Losmen Budjono Dieng || Kali ini saya mau berbagi cerita dan juga mau mengenalkan betapa Indahnya Sunrise di Bukit Sidengkeng Petak 9 Dieng yang jarang diketahui oleh banyak orang yang sudah pernah mengunjungi di berbagai tempat wisata yang ada di wilayah sekitaran Dieng. Letak dari Bukit Sidengkeng Petak 9 Dieng ini berada di kawasan telaga warna, untuk bisa mengunjungi tempat ini kita diharuskan tracking ke bukit kurang lebih 15 menit dari area tempat parkir kendaraan bermotor, untuk mengejar Indahnya Sunrise di Bukit Sidengkeng Petak 9 Dieng kita harus bangun pagi jam 04.30 buat persiapan menuju ke tempat tujuan, kita berangkat dari losmen budjono yang kebetulan tidak begitu jauh dari lokasi jadi tidak perlu khawatir apalagi terburu-buru.


Bagi para pemula yang jarang mendaki gunung sangatlah cocok tracking ke bukit sidengkeng untuk bisa menikmati Indahnya Sunrise di Bukit Sidengkeng Petak 9 Dieng yang menyajikan pemandangan alam yang bisa memanjakan mata ini, selain sunrise di bukit sidengkeng petak 9 kita bisa melihat telaga warna, telaga pengilon, gunung sindoro maupun gunung merapi dan juga merbabu,sekaligus gunung prau yang sudah terkenal akan keindahan bukit teletubies dan sunrisenya. 


Nah bagi sobat yang belom pernah melihat atau menyaksikan Indahnya Sunrise di Bukit Sidengkeng Petak 9 Dieng dengan mata kepala sendiri untuk bisa membuktikan sendiri keindahannya bisa ke TKP nya langsung dengan membayar tiket sebesar Rp 3.000,00, murah bukan? pastinya bikin penasaran dan juga pengen bisa langsung mengunjunginya.

Tuesday, 20 October 2015

Candi Dwarawati
Candi Dwarawati Dieng
Losmen Budjono Dieng || Dataran tinggi dieng banyak menyuguhkan tempat-tempat wisata alam yang unik dan juga banyak peninggalan-peninggalan candi hindu dimasa zaman dinasti sanjaya yang merupakan candi hindu yang tertua di pulau jawa, kali ini kita fokus membahas tentang Candi Dwarawati Dieng yang terletak di pinggir desa Dieng Kulon, kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara.

Kelompok Dwarawati terdiri atas 4 candi, yaitu Candi Dwarawati, Candi Abiyasa, Candi Pandu, dan Candi Margasari. Akan tetapi, saat ini yang berada dalam kondisi relatif utuh hanya satu candi, yaitu Candi Dwarawati.
Baca Juga : Candi Setyaki Dieng
Candi Dwarawati. Bentuk Candi Dwarawati mirip dengan Candi Gatutkaca, yaitu berdenah dasar segi empat dengan penampil di keempat sisinya. Tubuh candi berdiri di atas batur setinggi sekitar 50 cm. Tangga dan pintu masuk, yang terletak di sisi barat, saat ini dalam keadaan polos tanpa pahatan.

dwarawati2_Fifi.jpg
Pada pertengahan dinding tubuh candi di sisi utara, timur dan selatan terdapat semacam bilik penampil yang menjorok keluar membentuk relung tempat meletakkan arca. Bagian atas relung melengkung dan meruncing pada puncaknya. Ambang relung dihiasi pahatan bermotif bunga yang sederhana. Demikian juga sisi atas dinding bilik penampil. Ketiga relung pada dinding tubuh candi tersebut saat ini dalam keadaan kosong tanpa arca.
dwarawati4_Fifi.jpg
dwarawati3_Fifi.jpg
Sepintas candi ini juga terlihat seperti bangunan bertingkat, karena bentuk atapnya dibuat sama dengan bentuk tubuh candi. Di keempat sisi atap terdapat relung tempat meletakkan arca. Saat ini, relung-relung tersebut juga dalam keadaan kosong. Puncak atap sudah tak tersisa lagi sehingga tidak diketahui bentuk aslinya. Di halaman depan candi terdapat susunan batu yang mirip sebuah lingga dan yoni.


Begitulah sekilas tentang Candi Dwarawati Dieng semoga bisa menambah wawasan tentang sejarah tentang candi hindu tertua di pulau jawa ini, like and share yah sobat semuanya, terima kasih sudah berkunjung di Losmen Budjono Dieng.

Thursday, 15 October 2015


Peninggalan Kebudayaan pada Masa Dinasti Sanjaya di Dataran Tinggi Dieng Jawa Tengah selain komplek Candi Arjuna juga terdapat komplek Candi Gatotkaca yang terdiri 6 bangunan candi , komplek Candi Bima , dan komplek Candi Dwarawati. Sebelah barat komplek candi arjuna terdapat Candi Setyaki yang lain susunan dan bentuk candi berbeda dengan candi-candi yang ada di sekitar dataran tinggi Dieng, Candi Setyaki sendiri atasnya berlubang juga atasnya tidak mengerucut yang pada umumnya candi hindu kebanyakan mengerucut ke atas.


Candi Setyaki di dataran tinggi Dieng jarang sekali dikunjungi oleh para wisatawan dikarenakan tempatnya menyendiri dari area komplek candi arjuna yang merupakan candi utama yang ada di Dieng. Di sebelah bagian utara dari Candi Setyaki juga terdapat Batu Umpak - Umpak yang di perkirakan sebagai bangunan Darmasala yang jaman dulu digunakan untuk tempat peristirahatan sementara.



Tidak jauh dari Situs Candi Setyaki terdapat pula Situs Batu Lingga patok yang berada di areal Pertanian yang di gunakan sebagai daerah Sima atau Simbol dari Tanah Perdikan.
Dan adanya Situs Gangsiran Purba yang di buat oleh masyarakat Hindu Kuno di Dieng sebagai tempat saluran pembuangan air bawah tanah untuk mengeringkan kawasan Candi Arjuna yang pernah terendam luapan air dari Telaga BaleKambang yang berada di sebelah selatan Candi tersebut.
Dari beberapa situs- situs yang ada di dataran tinggi Dieng menunjukan adanya sebuah Peradaban masyarakat Hindu kuno yang pernah mendiami Bumi Dieng di masa kejayaan Wangsa Sanjaya
Wisata Sejarah di Candi Setyaki kita akan di ajak menelusuri dan belajar mengali informasi dari bentuk Arsitektural kuno dengan Ragam Hias atau Ornamen - Ornamen  yang ada di setiap bagian Candi Setyaki.

Friday, 9 October 2015



Goa Semar Dieng terletak di  area dekat telaga warna dan telaga pengilon yang berada di dataran tinggi dieng, Goa semar merupakan goa sang pamomong. Ungkapan itu tidaklah berlebihan karena di goa ini sejak dahulu sudah terkenal sebagai goanya para sang pemimpin. 

Mantan Presiden Soekarno dan Soeharto pernah mengunjungi goa ini untuk bersemedi. Goa ini juga diincar calon presiden atau penguasa yang ingin maju ke tambuk kekuasaan. Goa Semar juga goa induk dan juga Kebanyakan goa yang ada di Dieng memang masih digunakan sebagai lokasi untuk bersemedi dan bertapa. Goa dipercaya sebagai salah satu media alternatif yang digunakan oleh beberapa orang sebagai tempat menyampaikan segala keluh kesah diri kepada Yang Maha Kuasa. Dengan segala misteri yang ada, Goa ini juga menjadi salah satu tempat wisata di Dieng yang sering dikunjungi wisatawan.
Selain sejarah dan kemistisannya, Goa Semar ini merupakan goa yang letaknya paling tinggi di Dataran Tinggi Dieng. Meskipun, ukuran dari Goa Semar ini tidaklah begitu luas. Ukuran Goa Semar ini hanya 4 meter persegi

Wednesday, 7 October 2015

Tuk Bimo Lukar diyakini bisa menjadikan awet muda

Dieng adalah kawasan dataran tinggi yang berada di Propinsi Jawa Tengah, yang wilayah dibagi dua antara Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Letaknya berada di sebelah barat Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.
Dieng merupakan kawasan vulkanik aktif dan dapat dikatakan merupakan gunung api raksasa dengan beberapa kepundan kawah. Ketinggian rata-rata di dataran tinggi Dieng antara 2.500 m di atas permukaan laut. Suhu berkisar 15-20°C di siang hari dan 10°C di malam hari. Pada musim kemarau (Juli dan Agustus), suhu udara dapat mencapai 0°C di pagi hari dan memunculkan embun beku yang oleh penduduk setempat disebut bun upas ("embun racun") karena menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian biasanya menyerang tanaman kentang di daerah tersebut.




Di dataran tinggi Dieng tepatnya dekat pertigaan masuk desa Dieng ada sumber mata air yang berasal dari Gunung Prau yang merupakan hulu sungai dari Sungai Serayu namanya Tuk Bimo Lukar. Tuk Bimo Lukar ini adalah Mata air Suci bagi umat Hindu Kuno Dieng. Nama Bimo Lukar sendiri di ambil dari kata Bimo dan Lukar, Bimo artinya nama salah satu satu tokoh dari Pandawa sedangkan Lukar artinya busana. Menurut legenda cerita nama Bimo Lukar berarti sebagai tempat dimana tempat sang tokoh Pandawa yaitu Bimo Seno melukar (melepas) pakaiannya untuk disucikan. Tuk Bimo Lukar tersebut terbuat dari batu jaman purba yang disimbolkan dengan batu lingga (bentuknya menyerupai alat kelamin pria) dan Yoni sebagai yang digunakan sebagai penampung air nya (berbentuk seperti alat kelamin wanita).

Menurut cerita rakyat kuno air dari Tuk Bimo Lukar diyakini bisa menjadikan awet muda apabila seseorang telah mencuci muka nya di Tuk Bimo Lukar tersebut.
Tapi sekarang ini objek wisata tersebut mulai diterlantarkan, para wisatawan lebih memilih objek wisata yang lagi hits sekarang ini yaitu gunung prau sama bukit sikunir.

Monday, 5 October 2015

Telaga Merdada Dieng

Sebuah peninggalan penuh legenda dari Dataran Tinggi Dieng. Terletak 4 kilometer dari Dieng, Telaga Merdada dahulu merupakan kepundan (kawah gunung berapi) yang kemudian terisi air. Luas telaga ini diperkirakan 20 ha dengan kedalaman 25 meter.

Legenda

                Berdasarkan kisah yang berkembang di penduduk setempat, kata Merdada diambil dari nama bagian bawah cupu manik Astagina, Madirda.

                Adalah seorang resi yang sakti mandraguna bernama Resi Gautama. Dia mempunyai 2 orang putra kembar, Guwarso & Guwarsi, serta seorang putri berparas jelita bernama Dewi Anjani. Pada suatu hari, dua orang putra kembarnya berburu di hutan. Setelah lama berburu di tengah lebatnya rimba belantara, akhirnya mereka berhasil mendapatkan seekor rusa. Dengan hati penuh kegembiraan mereka membawa pulang hasil buruan tersebut untuk diberikan kepada adik mereka.  Mereka berharap adiknya akan senang menerima rusa itu.

                Jauh dari perkiraan Guwarso dan Guwarsi, Dewi Anjani tampak kurang tertarik dengan rusa yang mereka bawa. Adiknya justru memilih mengurung diri di kamar daripada bermain-main dengan rusa. Hal yang sangat aneh mengingat Dewi Anjani sangat senang pada rusa. Didorong rasa penasaran terhadap sikap adiknya yang lain dari biasanya, si kembar mengendap-endap mengikuti Dewi Anjani ke kamarnya. Secara diam-diam mereka mengamati apa yang dilakukan adiknya tersebut.

                Di dalam kamar Dewi Anjani mengeluarkan sebuah  benda yang dibungkus kain putih dan memendarkan cahaya keemasan. Dewi Anjani memperhatikan benda berpendar yang tak lain adalah sebuah cupu, cupu manik Astagina. Konon, apabila bagian bawah cupu ini dibuka maka akan terlihat terlihat segala isi dunia. Sedangkan apabila tutupnya yang dibuka, akan terlihat segala sesuatu yang terjadi di Sorga Loka.

                Sebenarnya, yang berhak menerima cupu ini sebagai harta warisan adalah salah seorang dari putra kembar itu. Mengetahui hal tersebut, maka dua saudara kembar tersebut berusaha untuk merebutnya dari Dewi Anjani. Perebutan antara si Kembar dan Dewi Anjani akhirnya diketahui oleh ayah mereka.

                Resi Gautama memanggil isterinya dan menanyakan asal dari cupu manik itu. Istrinya tidak menjawab. Dia merahasiakan asal muasal cupu yang sebenarnya merupakan pemberian seorang dewa yang jatuh cinta kepadanya. Dia teringat pada pesan Dewa yang menyuruhnya merahasiakan asal cupu manik.

                Kesal dengan sikap istrinya yang seolah menyembunyikan sesuatu, Resi Gautama murka dan mengutuk istrinya menjadi tugu batu. Kemudian cupu itu dilemparkan ke udara. Cupu bagian bawah (Madirda) jatuh ke bumi dan muncullah Telaga Merdada. Sementara bagian tutupnya yang bernama Dlingo jatuh di atas Kawah Candradimuka dan membentuk sebuah telaga yang hingga sekarang dikenal dengan nama Telaga Dlingo. Arca batu yang merupakan jelmaan dari istri sang Prabu turut dilempar dan terjatuh di tepi telaga Merdada.

                Dikisahkan pula, Raden Guwarso dan Guwarsi dalam perjalanannya mencari cupu manik Astagina, akhirnya sampai di tepi Telaga Merdada. Pendar keemasan yang terpancar dari dalam Telaga Merdada memancing kesimpulan dalam benak mereka bahwa cupu tersebut jatuh ke dalam Telaga. Maka, tanpa berpikir panjang mereka langsung terjun ke telaga.

                Berjam-jam di dasar Telaga, namun tetap nihil. Cupu tersebut tidak ditemukan di dasar Telaga. Setelah lelah, keluarlah dua saudara kembar tersebut dari dalam Telaga. Sekeluarnya mereka dari dalam Telaga, terkejutlah mereka ketika melihat wajahnya yang berubah menjadi kera. Peristiwa serupa juga dialami oleh Dewi Anjani, wajahnya yang cantik jelita berubah menjadi kera.

                Peristiwa yang dialami oleh dua saudara kembar serta Dewi Anjani diyakini sebagai akibat dari kenakalan serta kerakusan mereka. Hingga saat ini, hal tersebut menjadi sebuah pesan moral yang terpelihara secara turun temurun di Desa Karangtengah. Bila kita berkesempatan berjalan-jalan di sekitar Desa Karangtengah, tidak jarang kita temui orang tua yang meneriakkan kata ‘dadi kethek’ sebagai sebuah peringatan kepada anak-anaknya agar tidak nakal dan tetap patuh pada nilai-nilai luhur. Kethek atau dalam bahasa Indonesia berarti Kera, merupakan lambang keburukan yang patut dihindari.

                Sementara itu, cupu manic Astagina yang telah berubah menjadi Telaga, hingga sekarang masih memancarkan pendar keemasan dalam waktu-waktu tertentu. Konon, apabila seseorang duduk di tepi Telaga, akan dipermudah segala urusannya serta mendapat pencerahan.


Arca Dewi

Picture
        Arca Dewi yang dalam legenda merupakan jelmaan istri Resi Gautama, hingga sekarang masih berdiri kokoh di tepi telaga Merdada, tepatnya di atas bukit sebelah timur Telaga Merdada. Arca batu tersebut seakan melambangkan seorang istri yang tidak patuh kepada suaminya. Bila kita ingin menyaksikan bagaimana rupa sang Ratu, kita harus menaiki bukit dengan lintasan yang cukup sulit. Namun, kesulitan tersebut akan terbayarkan ketika kita sampai di atas. Dari sisi tenggara Arca, kita dapat menyaksikan batu berbentuk kepala dengan mahkotanya. Benar-benar terlihat sebagai jelmaan seorang Ratu. Tak hanya itu, dari puncak bukit kita dapat menyaksikan pesona Telaga Merdada yang berbentuk cekungan dengan bukit hijau di sekitarnya. Panorama yang sangat indah dengan terpaan angin sejuk yang menentramkan. Bila kita haus atau merasa lelah, kita dapat memetik carica langsung dari ladang di sisi bawah Arca Dewi. Kesegaran rasa asam carica dapat menghilangkan haus sekaligus menjadi suplai energy untuk dapat menikmati berbagai keindahan di setiap sudut telaga Merdada.

Batu Tumpeng

            Tidak jauh dari Arca Dewi, batu tumpeng terletak di atas bukit sisi timur Telaga Merdada. Batu ini merupakan pemisah antara Telaga Merdada dan bukit Sitalang. Disebut batu tumpeng karena bentuk batu ini menyerupai nasi tumpeng yang biasa disajikan dalam berbagai perayaan.

Gua Mushola

            Sebagai sebuah fenomena bentukan alam, gua ini memiliki ketinggian 500m dari bibir Telaga Merdada. Dinamai gua Mushola karena gua ini sering menjadi tempat para wisatawan menunaikan ibadah salat ketika mereka mendaki puncak Arca Dewi. Gua Mushola termasuk dalam jajaran gua tertinggi di Dieng dengan mulut gua menghadap langsung ke Telaga Merdada. Sisi muka gua yang berbentuk lapang dengan naungan pohon hijau membuat tempat ini layak sebagai tempat istirahat sebelum melanjutkan perjalanan hingga ke pucak Arca Dewi.

Pesanggrahan

            Pesanggrahan atau yang sekarang lebih terlihat sebagai gardu pandang, terletak di sebelah utara lapangan parkir. Sebelum disulap menjadi gardu pandang,  tempat ini pernah disinggahi Raden Suwiryo (Adipati Kolopaking) yang merupakan Adipati Banjarnegara untuk mencoba kesaktiannya (nguji kanuragan). Pada saat itu beliau menjajal kesaktiannya dengan mengambil air dari Telaga Merdada menggunakan keranjang tanpa ada setetes air yang tumpah. Sejak saat itu, tempat ini disebut sebagai pesanggrahan yang artinya ‘disinggahi’. Dan hingga saat ini pula, tempat ini sering digunakan sebagai tempat para petinggi atau pemimpin daerah untuk singgah dan beristirahat.

Makam Raden Mangkuyuda dan Natayuda

DiengPicture Desa karang tengah merupakan desa di kawasan dataran tinggi dieng. Beragam potensi wisata dan pertanian dimiliki oleh desa ini. Selain panorama alamnya yang sangat menawan, Desa karang tengah memiliki warisan kultural yang tidak ternilai harganya. Warisan ini berupa makam. Masyarakat sekitar akrab dengan istilah punden atau pepunden untuk menyebut makam ini.


Dalam kompleks pemakaman ini hanya terdapat dua makam. Masyarakat meyakini bahwa tokoh yang dimakamkan adalah Raden Mangkuyuda dan Raden Natayuda. Sebenarnya masyarakat tidak mengenal secara personal terhadap kedua tokoh tersebut. Hal ini disebabkan oleh terlalu jauhnya masa ketika tokoh itu hidup dengan masa sekarang ini. Masyarakat meyakini tokoh ini sebagai tokoh yang melakukan babad alas di kawasan dieng dan mengembangkan potensi pertanian di kawasan dieng. Untuk itu, sangat penting mengenal figur Raden Mangkuyuda dan Raden Natayuda yang berjasa di masa lalu di kawasan dieng.

          Dalam waktu dekat ini masih dilakukan penelitian secara historis oleh beberapa mahasiswa jurusan sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM) terhadap tokoh Raden Mangkuyuda dan Raden Natayuda. Upaya tersebut dilakukan untuk mengetahui lebih dalam siapa tokoh ini sebenarnya? Seberapa besar pengaruhnya terhadap perkembangan kawasan dieng? Seperti apa perjalanan hidupnya?

          Terdapat salah satu literatur berjudul Asalsilahipun poro Noto Susunan yang ditulis oleh G.R.AY. Brata Diningrat yang memaparkan bahwa Raden Mangkuyuda dan Raden Natayuda merupakan keturunan silsilah dari Tumenggung Mangkurat (putra dari sultan Trenggono). Hal ini menjadi semacam titik cerah untuk mencari sumber-sumber terkait yang dapat menjelaskan keberadaan kedua tokoh tersebut. Kemungkinan sumber-sumber mengenai kedua tokoh tersebut dapat diperoleh dari arsip Kraton Kasunanan. Dalam literatur ini menjelaskan bahwa Raden Mangkuyuda dan Raden Natayuda dimakamkan di karang tengah.

           Hal yang menjadikan menarik ialah makam ini masih bertahan pada masa sekarang ini. Masyarakat sekitar terutama masyarakat desa karang tengah memiliki peran penting menjaga kelestarian makam ini. Apabila dinilai dari undang-undang yang terkait dengan situs bersejarah, seharusnya makam ini sudah menjadi tanggung jawab pemerintah untuk turut serta melestarikan makam ini sebagai situs sejarah. Layaknya situs sejarah lainnya seperti candi-candi peninggalan zaman hindu-budha.

           Hal menarik lainnya, masyarakat sekitar merasa dekat dengan kedua tokoh ini. sebagian masyarakat bertemu dengan tokoh ini melalui mimpi. Tokoh ini selalu mengingatkan untuk menjalankan syariat islam dan mengingatkan untuk tetap di jalan allah. Dari sekitar tahun 50an mulai banyak orang berziarah ke makam ini sebagai wujud penghormatan terhadap jasa-jasanya di wilayah dataran tinggi dieng di masa lalu. Setiap bulan syuro, makam ini selalu didatangi banyak peziarah dari berbagai tempat, terutama masyarakat dataran tinggi dieng untuk memperingati khol atau semacam bentuk peringatan kepada kedua tokoh ini. peringatan ini hampir sama dengan budaya jawa lainnya seperti nyadran.

          Intinya tetap mendoakan orang yang sudah meninggal dan menghormati jasa-jasa orang yang sudah meninggal di masa lalu. Biasanya peziarah melantunkan bacaan-bacaan Al-fatihah, wirid, surat yasin, dan bermunajat kepada allah. Masyarakat islam masih sangat menghormati tradisi ziarah dengan mendoakan orang-orang yang sudah meninggal. Pada dasarnya budaya ziarah terhadap orang yang sudah meninggal dianjurkan dalam sunnah rosul.

          Dalam memori kolektif masyarakat desa karang tengah, Sukarno (presiden RI yang pertama) pernah sesekali berziarah ke makam ini. Selain itu, sebagian besar masyarakat dieng menempuh pendidikannya di pesantren. Santri-santri ini kecenderungan masih menjalankan tradisi ziarah. Hal ini menunjukan bahwa tradisi ziarah masih berlangsung hingga masa sekarang ini.

          Makam Raden Mangkuyuda dan Raden Natayuda terletak di tepi jalan batur yang menghubungkan dieng dengan kecamatan Batur. Makam ini berjarak 2 km dari kompleks candi arjuna dan dapat ditempuh sekitar 10 menit. Selain itu, makam ini sangat berdekatan dengan wisata alam telaga merdada yang terletak di wilayah desa karang tengah. Apabila hendak melintas desa karang tengah, dari kejauhan tampak terlihat kumpulan pepohonan yang menjulang sangat tinggi seperti membelah dinginnya langit di dataran tinggi dieng. Hal ini dikarenakan makam ini dikelilingi pepohonan yang sangat besar. Banyak terdapat varietas pepohonan di sekitar makam.

           Pohon yang tergolong langka yang terletak di area makam adalah pohon puspa. Belum diketahui secara pasti berapa umur dari pohon puspa ini. pohon puspa di komplek makam ini tingginya sekitar 25 m. Hal ini menambah keheningan hati para peziarah ketika berziarah di makam ini. Di waktu sore tampak kabut yang menyangkut dahan-dahan pohon puspa. Hal ini menjadi keindahan tersendiri di komplek makam Raden Mangkuyuda dan Raden Natayuda di saat sore hari.

          Panitia pelestarian makam Raden Mangkuyuda dan Raden mangkuyuda terus melakukan perbaikan infrastruktur dan mengadakan kegiatan-kegiatan positif seperti wirid bersama di kompleks makam, membersihkan area makam, dan melestarikan pohon-pohon langka di sekitar makam.

          Adapun tujuan jangka panjangnya, kompleks makam Raden Mankuyuda dan Raden Natayuda menjadi tujuan wisata ziarah bagi peziarah-peziarah dari berbagai kota, seperti halnya makam raja-raja mataram di plered, makam-makam para walisanga, makam raja-raja demak, makam para kyai di gunungpring Muntilan, dll. Jadi bukan hanya masyarakat dieng saja yang berziarah di kompleks makam ini. Untuk itu, di sekitar wisata alam telaga merdada dan makam Raden Mangkuyuda dan Raden Natayuda sudah disiapkan beberapa homestay. Masyarakat desa karang tengah pun sudah memiliki kesiapan sebagai desa wisata.
Sumber dari Desa Karangtengah

 Keindahan Curug Sikarim Dieng

Berwisata di  dataran tinggi dieng memang  kaya dengan pesona alam yang tak akan ada habisnya juga tak di temukan di daerah lain selain wisata sejarah, seni dan budaya , serta keanekaragaman wisata alam seperti gunung prau, bukit sikunir, telaga warna, kawah sikidang, sumur jalatunda, dan air terjun atau sering di sebut sebagai curug.
Keindahan Curug Sikarim Dieng Merupakan kawasan wisata yang jauh dari permukiman penduduk, namun demikian obyek wisata menawarkan sisi keindahan berupa latar berbukit yang menjulang yang sekitarnya banyak ditumbuhi tumbuhan langka yaitu Pakis Galar.

Gemuruh suara air terjun curug Sikarim, mampu menentramkan kepenatan yang ada, ditambah lagi udara sejuk dan pemandangan yang begitu elok. Tak sedikit pengunjung yang enggan meninggalkan air terjun Sikarim, pasalnya pengunjung disuguhi beraneka ragan pesona alam yang begitu memukau.

Sedangkan akses menuju curug Sikarim dapat melalui jalur garung Wonosobo maupun jalur Sembungan. Saat ini belum ada transportasi yang menuju Curug Sikarim Dieng. Karena letaknya yang jauh dari permukiman penduduk menyebabkan obyek wisata ini masih asri dan belum banyak terjamah.
Biasanya setelah melihat Matahari Terbit di atas Bukit Sikunir , Telaga Cebong, dan di lanjutkan ke Curug Sikarim Dieng yang letaknya di bawah Desa Sembungan dan bisa di tempuh dengan waktu sekitar 2 jam perjalanan untuk menuju ke lokasi Wisata Alam Curug Sikarim Dieng tersebut.
Selama perjalanan menuju air terjun sikarim kita juga di ajak menikmati keindahan danau menjer serta perkebunan teh di sepanjang perjalanan menuju ke dataran tinggi dieng. Perjalanan wisata hiking ke curug sikarim Dieng akan lebih nyaman dan aman bila di dampingi oleh pemandu wisata lokal dieng dengan divisi guide khusus trekking.

Sunday, 4 October 2015

Keunikan Sumur Jalatunda Dieng

Perjalanan menjalajahi pesona keindahan alam Dataran Tinggi Dieng berlanjut menyusuri sisi barat kawasan deretan pegunungan di bagian tengah Pulau Jawa ini. Obyek wisata pertama yang saya kunjungi adalah Sumur Jalatunda, sumur tua yang terkenal dengan beraneka macam mitosnya. Akses jalan menuju Sumur Jalatunda sudah cukup baik, jalan dengan aspal yang halus diselingi dengan kontur yang berliku khas daerah pegunungan. Pemandangan sepanjang perjalanan pun tidak membosankan, hamparan perkebunan milik warga dan juga kanal pengolahan panas bumi milik PT Geodipa siap mengundang decak kagum.

Secara administrarif Sumur Jalatunda terletak di Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Walaupun terdapat embel-embel nama sumur, jangan harap Anda akan menemukan wujud sumur dalam arti yang sebenarnya. Menurut sejarahnya, Sumur Jalatunda merupakan sebuah kepundan yang terbentuk dari letusan gunung berapi jutaan tahun yang lalu. Kepundan tersebut terisi oleh air hujan dan kemudian membentuk sebuah sumur. Sumur Jalatunda memiliki diameter sekitar 90 meter dengan kedalaman ratusan meter. Pemberian nama Jalatunda sendiri konon diambil dari kosa kata Bahasa Jawa yang berarti sumur yang luas atau besar.
Untuk menikmati wujud dari Sumur Jalatunda, kita harus menaiki beberapa anak tangga dari arah parkiran kendaraan. Di sekitar anak tangga tumbuh subur bunga sedap malam dengan pemandangan hamparan perkebunan luas yang mengitarinya. Setelah menaiki beberapa anak tangga sampilah di sebuah pendopo, nah persis di samping pendopo tersebut kita akan melihat wujud dari Sumur Jalatunda. Sumur Jalatunda merupakan sebuah lubang vulkanik berukuran sangat besar berisi air yang berwarna kehijauan.


Ada sebuah mitos unik yang sangat melegenda di Sumur Jalatunda ini. Barang siapa yang mampu melempar batu kerikil pada jarak tertentu maka keinginan yang bersangkutan akan terkabul. Bagi yang melempar adalah pria, maka lemparannya harus sampai dengan seberang sumur, sedangkan bagi wanita cukup sampai dengan bagian tengah sumur. Keberadaan mitos ini dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk berjualan batu kerikil untuk dilemparkan ke sumur oleh pengunjung. Selain menjual batu, penduduk ini juga akan senang hati menceritakan kisah dan juga mitos mengenai Sumur Jalatunda ini, dengan catatan Anda harus pintar-pintar memancing obrolan dengan mereka ya. Banyak pengunjung yang gagal melempar batu sampai pada jarak yang ditentukan. Penjelasan secara ilmiah sih, lemparan batu tidak sampai pada tujuan karena adanya gaya gravitasi yang mempengaruhi. Entah benar atau tidak mitos tersebut, namun jika ditarik sebuah kesimpulan, keinginan manusia itu akan terwujud jika dia memiliki niat, tekat yang kuat, serta usaha yang keras untuk mewujudkan keinginannya tersebut.

Selain sebagai obyek wisata alam, Sumur Jalatunda  ini juga dijadikan sebagai obyek wisata spiritual. Di sudut dekat tangga, terdapat bekas pemujaan berupa dupa dan juga sesaji. Menurut si penjual batu kerikil yang sekaligus merangkap sebagai pemandu, Sumur Jalatunda ini juga dijadikan sebagai salah satu tempat untuk bersemedi atau dalam bahasa Jawa disebut nglakoni. Konon katanya Sumur Jalatunda ini merupakan salah satu pintu gerbang untuk menuju dunia lain. Sumur Jalatunda ini menurut mitosnya juga kerap meminta korban nyawa dalam kurun waktu tertentu. Si pemandu bercerita bahwa sekitar bulan Juni 2012 lalu terdapat korban jiwa yaitu seorang lansia yang tercebur ke dalam sumur. Menurut penuturan si pemandu, lansia tersebut tidak bisa berjalan, entah ada dorongan magis apa sehingga lansia tersebut dapat menuju Sumur Jalatunda dan masuk ke dalamnya.

Sumur Jalatunda memang tersohor dengan legenda dan mitosnya yang berkembang sehingga banyak pengunjung yang penasaran untuk mencoba peruntungan mereka dengan melempar batu kerikil di sumur ini. Entah mitos tersebut benar atau tidak, Dieng memang memiliki potensi wisata yang unik dan menarik.

Wednesday, 30 September 2015

Embun Salju di Pegunungan Dieng

Pada Kesempatan kali ini saya akan membahas tentang Embun Salju di Pegunungan Dieng, fenoma yang unik dan juga jarang ditemui oleh para wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara.
Memasuki puncak kemarau di Dataran Tinggi Dieng, yang diperkirakan jatuh pada pertengahan hingga akhir bulan Agustus, di Dataran Tinggi Dieng akan terjadi fenomena alam yang unik yakni frost atau masyarakat Dieng biasa menyebutnya embun salju atau bun upas.
Disebut embun salju karena embun tersebut membeku layaknya salju yang menempel di pucuk-pucuk daun dan rerumputan yang ada di Dataran Tinggi Dieng, putih membentang terhampar di sepanjang lahan pertanian dan padang ilalang. Pemandangan langka itu biasa terjadi antara bulan Agustus sampai bulan September dan menjadi daya tarik bagi wisatawan, terutama bagi mereka yang belum pernah melihat salju.
Hamparan tanaman kentang dan padang ilalang di Dieng akan berubah menjadi hamparan embun putih yang beku. "Bagi tanaman kentang, embun ini memiliki dampak buruk," kata Ony Wiyono, petugas Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Wonosobo.
Pasalnya, tanaman itu tak tahan terhadap embun tersebut lantaran bisa layu, membusuk dan mati. Makanya embun ini disebut juga bun upas atau dalam bahasa Jawa berarti racun. Terlepas dari itu, pesona Dieng pada puncak kemarau musim ini cukup mengagumkan.
Para penggemar fotografi bisa mengabadikan segala sisi kawasan Dieng yang memutih dan dingin. Frost atau embun salju ini bisa dilihat dibeberapa titik yakni kawasan Candi Arjuna, lapangan Dieng dan sekitar terminal Telaga Warna. "Sudah empat hari embun upas turun di kompleks candi," kata Sekretaris Kelompok Tani Kentang Perkasa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Banjarnegara, Kabul Suwoto.
Embun Salju di Pegunungan Dieng diperkirakan masih akan turun mengingat kondisi cuaca masih sangat dingin. Masyarakat Dieng sudah sangat akrab dengan kejadian unik ini. Tanda-tandanya, pada siang hari suhu udara akan mencapai  22-24 derajat celsius, sementara pada malam hari suhu bisa mencapai minus lima derajat celsius.



Saat pergi jalan-jalan ke Dataran Tinggi Dieng selain melihat pemandangan pegunungan yang memanjakan mata pastinya ingin sekali melihat fenomena-fenomena alam yang muncul Di Dieng. Pernahkan Anda merasakan udara yang teramat dingin dengan suhu di bawah nol derajad di Wilayah Indonesia. Mungkin akan terdengar tidak masuk akal jika salah satu daerah di belahan Bumi Indonesia ini memiliki suhu udara minus atau di bawah nol derajad celcius kecuali jika kita mengunjungi puncak Jaya Wijaya di Irian Jaya yang tidak semua orang bisa megjangkau daerah gunung tersebut.
Hanya dengan mengunjungi Dataran Tinggi Dieng yaitu daerah pegunungan yang berada di Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo Anda bisa mencicipi udara dibawah nol derajad dan bisa di katakan suhu udara minus. Jangan kaget fenomena alam seperti ini benar adanya. Ajaklah keluarga serta rekan Anda untuk mengunjungi Dieng saat musim kemarau tiba yaitu perkiraan akan jatuh di Bulan Agustus dan September.


Dibalik suhu udara yang teramat dingin di Dieng, disinilah Anda dapat menemukan sebuah keajaiban-keajaiban alam yang tercipta di negeri Dewata ini yaitu Embun Salju di Pegunungan Dieng. Percaya tidak percaya Dataran Tinggi Dieng akan bersalju saat musim kemarau tiba. Karena suhu udara minus hal ini yang menyebabkan embun-embun pagi akan membeku yaitu dengan membentuk kristal-kristal es. Kristal-kristal es tampak tebal menyelimuti area Dieng Plateau.
Di saat inilah para wisatawan pergi berbondong-bondong menuju Dataran Tinggi Dieng, tidak hanya menyaksikan keindahan sunrise sikunir saja akan tetapi merekan akan menyempatkan diri untuk menonton fenomena langka salju Dieng. Apalagi para fotografer, mereka sangat suka dengan mengabadikan hamparan kristal-kristal es Dieng.

Tuesday, 29 September 2015

Candi Bima Mahakarya Dinasti Sanjaya Candi Termegah dan Terbesar di Dataran Tinggi Dieng

Dieng tidak hanya identik dengan wisata alam saja, seperti pegunungan-pegunungan yang indah, kawah-kawah maupun telaga-telaga Dieng yang terhampar luas. Di Dieng inilah Anda juga dapat menikmati sajian wisata sejarah berupa bangunan candi.
Napak tilas sejarah tentang candi memang hal yang sangat menyenangkan ketika berkunjung ke Dataran Tinggi Dieng apalagi mengunjungi candi Bima sebagai candi termegah dan terbesar di Dieng. Disinilah kita akan mengagumi kecanggihan nenek moyang orang Dieng.
Secara umum bangunan candi Bima berarsitek seperti candi candi di India, namun tidak seutuhnya sama. Sementara itu relief candi Bima masih terlihat utuh dan menampilkan cerita perwayangan.
Candi bima terletak di persimpangan jalan menuju kawah sikidang dan komplek candi Arjuna. Secara administratif masuk ke Dieng Kulon Kecamatan Batur, kabupaten Banjarnegara.

Candi Bima terletak menyendiri di atas bukit. Candi ini merupakan bangunan terbesar di antara kumpulan Candi Dieng. Bentuknya berbeda dari candi-candi di Jawa tengah pada umumnya. Kaki candi mempunyai denah dasar bujur sangkar, namun karena di setiap sisi terdapat penampil yang agak menonjol keluar, maka seolah-olah denah dasar Candi Bima berbentuk segi delapan.
Penampil di bagian depan menjorok sekitar 1,5 m, berfungsi sebagai bilik penampil menuju ruang utama dalam tubuh candi. Penampil di ketiga sisi lainnya membentuk relung tempat meletakkan arca. Saat ini semuanya dalam keadaan kosong. Tak satupun arca yang masih tersisa.
Bentuk atap candi terdiri atas 5 tingkat, masing-masing tingkat mengikuti lekuk bentuk tubuhnya, makin ke atas makin mengecil. Setiap tingkat dihiasi dengan pelipit padma ganda dan relung kudu. Kudu ialah arca setengah badan yang nampak seolah-olah sedang menjenguk ke luar. Hiasan semacam ini terdapat juga di Candi Kalasan. Puncak atap sudah hancur sehingga tidak diketahui bentuk aslinya.

Menikmati Indahnya Pesona Pemandangan Alam di Tempat Bersemayamnya Para Dewata

Dieng berasal dari 2 kosakata Sansekerta, yakni “Di” dan “Hyang”. “Di” artinya tempat yang tinggi sedangkan “Hyang” mempunyai makna tempat para dewa dewi. Sehingga secara umum diartikan sebagai suatu tempat bersemayamnya para dewa dewi. Selain itu ada pula yang mengartikannya dari bahasa Jawa, yakni adi (indah) dan aeng (aneh). Masyarakat sekitar kadang mengartikan sebagai tempat nan indah yang diselimuti suasana spiritual yang kental.



Dataran Tinggi Dieng laksana negeri tinggi di atas awan. Dengan ketinggian yang mencapai 2000 meter, udara disini terasa segar dan bening serta menyejukkan serta diselimuti kabut yang tebal. Karena keindahan dieng yang menakjubkan inilah sehingga Dieng dianggap sebagai lokasi yang sakral dan tempat para dewa dewi tinggal.
Dataran Tinggi Dieng mempunyai banyak candi kecil masa lalu yang indah yang bertebaran di daerah dataran tinggi gunung api. Disini kita bisa menikmati keindahan candi-candi bergaya Hindu yang mempunyai arsitektur unik. Candi candi ini dinamakan seperti tokoh-tokoh pada cerita Mahabarata. Kuat dugaan bahwa dulunya candi disini dipergunakan oleh para pendeta Hindu yang menyebarkan ajarannya.



Disamping itu lokasi wisata ini juga mempunyai Dieng Plateu Theater sebagai penyedia info-info peristiwa alam di seputar Dieng. Theater ini memiliki daya tampung 100 orang. Disini juga terdapat taman asri yang nyaman untuk bersantai sambil menikmati indahnya alam dari deretan pegunungan didekitarnya.



Daya tarik lainnya adalah menikmati indahnya matahari saat terbit dan terbenam. Sunrise dan sunset dengan cahaya keemasan sungguh merupakan fenomena alam yang unik dan menakjubkan apalagi jika kita menikmatinya dari atas candi disini.



Keindahan panorama alam Dieng memukau banyak turis yang datang serta memberi kesan membekas. Danau danau berwarna kuning dan hijau dengan air yang sangat jernih sehingga kita pun bagaikan bercermin di atas air. Danau cermin ini adalah fenomena dari indahnya kawasan dieng. Kita juga bisa melihat lumpur bergelembung yang mendidih. Serta kabut tebal yang menutupi Kawasan Dieng. Dan ketika kita berada ke atas Dataran Tinggi Dieng seolah-olah kita berada di puncak dunia. Kita akan merasakan pengalaman tersendiri disini.



Mengamati fenomena anak gimbal yang tinggal di dataran tinggi Dieng juga merupakan pengalaman yang seru. Anak gimbal atau warga setempat menyebutnya sebagai anak gembel. Mereka dianggap sebagai anugerah dari para dewata. Yang menjadi fenomena unik adalah bila rambut anak gimbal dipotong secara sembarangan akan menyebabkan sang anak menjadi sakit-sakitan. Dan fenomena aneh lainnya adalah rambut gimbal pada anak-anak gimbal ini tidak tumbuh secara alami ketika mereka lahir, melainkan tumbuh ketika mereka berusia 1 atau 2 tahun.

Akomodasi dataran Tinggi Dieng


Banyak juga para turis yang tinggal di Wonosobo dan berjalan-jalan seharian di Dieng. Bila kita berniat tinggal di desa sekitar Dieng, disini tersedia banyak losmen kecil dan hotel. Selain itu kita bisa juga menyewa rumah warga sekitar dengan harga yang relatif terjangkau.

Transportasi ke Dataran Tinggi Dieng

Cara yang paling gampang agar bisa sampai ke Dataran Tinggi Dieng adalah dengan mobil. Siapa saja bisa mengunjungi Dieng bahkan dengan kendaraan umum. Untuk transportasi umum kita bisa memanfaatkan bus dari Jogja ke Magelang dan ke Wonosobo. Setelah berada di Wonosobo, gunakan minibus menuju Desa Dieng. Dataran Tinggi Dieng bisa ditemph dengan jalan kaki dari desa Dieng. Bila kita menggunakan mobil pribadi, kita bisa parkir di lokasi sekitarnya.
Udara yang sejuk dengan temperatur berkisar 15 derajat celcius maka sebaiknya membawa sweater ataupun baju penghangat. Ada baiknya juga meninggalkan lokasi sebelum malam tiba dikarenakan Dieng mulai tertutup kabut sejak sore.

Sunday, 27 September 2015


Masih jarang sekali yang  mengetahui keberadaan Savana Dieng, termasuk warga Dieng sendiri. Bagaimana dengan yang di Wonosobo? Mendengar kata savana atau sabana pastilah tergambar oleh kita savana yang luas seperti di  Afrika, Amerika, dan Australia, dengan binatang gajah, zebra , jerapah dan singa tengah bermain-main maupun duduk manis.
Sabana  adalah padang rumput, yang dipenuhi tanaman perdu, atau semak dan diselingi beberapa pohon besar yang tumbuh menyebar. Sabana dikenal juga dengan padang rumput tropis, timbul karena kurangnya curah hujan. Nah, inilah keunikan savanna Dieng. Karena, pada saat musim hujan savanna Dieng akan menjadi padang rumput yang sangat hijau, dengan genangan air seperti kolam alam berair jernih, dan pada musim kemarau,  menjadi savanna yang menyerupai  di Afrika dengan rumput kering dan pohon-pohon meranggas. Tak perlu jauh-jauh ke Afrika kan?
Letaknya masih di dataran tinggi Dieng, banyak jalan menuju savanna ini, namun yang paling cepat dan mudah adalah melewati atas museum Kailasa melewati jalan setapak.
Dieng merupakan salah satu tempat surganya wisata alam yang mengundang decak kagum para wisatawan lokal maupun internasional dan banyak juga digemari oleh para wisatawan untuk menghilangkan segala kesibukan juga kepenatan hiruk pikuk suasana ramenya kota. Landscape Dieng yang begitu memukau mampu memikat wisatawan baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Ada banyak keajaiban alam yang masih banyak terpendam di Dataran Tinggi Dieng. Keindahan alam yang begitu indah terselubung di antara perbukitan yang melingkar sepanjang Dieng. Bekas letusan gunung berapi mampu membentuk landscape Dieng yang tak seorangpun mengelakan keindahannya. Telaga sumurup kering terbentuk dari letusan kawah Dieng membentuk hamparan yang luas dan menakjubkan di Dieng.


Telaga sumurup fenomenal dengan sebutan Padang Savana Sumurup Dieng. Saat musim kemarau tiba titik dingin dieng adalah di area padang savana. Padang Savana Sumurup yang begitu luas dengan deretan rumput ilalang kecoklatan di sepanjang perjalanan yang begitu rimbun dan dikelilingi hutan lindung lebat membuat area ini seperti di padang afrika.
Membutuhkan waktu lama untuk menempuh Padang Savana Sumurup yang saat ini belom ramai dikunjungi oleh para wisatawan. Kita membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam menuju padang savana sumurup. Mendaki bukit, menyibakkan padang rumput gajah yang rimbun membuat sensasi tersendiri saat menuju Padang Savana Sumurup yang memanjakan mata nan indah ini. Gugusan pegunungan dieng, gunung sindoro, gunung sumbing, gunung merbabu dan gunung merapi terlihat indah di kanan kiri perbukitan.
Tidak hanya deretan gunung yang menemani perjalanan kita. Telaga indah nan cantik pun terlihat saat perjalanan menuju Padang Savana Sumurup yaitu telaga Merdada. Area pertanian penduduk sekitar juga terhampar luas dengan asap asap alam geotermal dieng.
Seperti lembah surga yang tertinggal didunia saat meihat keindahan Padang Savana Sumurup Dieng. Kombinasi warna yang begitu serasi, indah, enak di pandang mata terhampar begitu saja. Ketenangan, kesenangan dalam hati akan kita dapatkan saat berada di Padang Savana Sumurup. Alam yang masih perawan dan masih jarang terjamah orang terasa tampak keasliannnya.

Wednesday, 16 September 2015



Batu Pandang Tempat Istimewa Memandang Telaga Warna dan Pengilon

Keindahan telaga warna terlihat dari warna airnya yang bisa berubah ubah seperti bunglon. Tau gak sih kenapa bisa berubah-ubah warnanya? itu terjadi karena adanya perubahan suhu, cuaca dan keadaan di sekitarnya. Keunikan dari telaga warna ini  ternyata terjadi akibat adanya kadar belerang yang sangat tinggi yang mengendap di dalam telaga, dan telaga warna yang bereaksi dengan sinar matahari lalu memantul ke air. Warna warna yang sering terlihat di permukaan biasanya putih, biru, hijau bahkan hijau kekuningan. Fenomena alam yang sangat unik dan langka.
Nah akibat terjadinya fenomena ini lah banyak orang yang tertarik untuk datang ketempat ini. Selain cuaca yang sejuk meskipun sedang musim panas, udaranya pun ngebuat kita jadi semangat *semangat mau libur terus sih* 
 
Ada beberapa tempat untuk menyaksikan Telaga Warna dan Telaga Pengilon yakni bisa langsung melihat keindahan telaga langsung dari tepian. Tapi banyak orang yang mengasumsikan kurang seru jika hanya melihat di tepian telaga dan pastinya para wisatawan berpandangan lain telaga tersebut akan terlihat lebih elok jika dari tempat yang lebih tinggi. Untuk menyenangkan para wisatawan para pelaku wisata memilih tempat-tempat rekomendasi yang tepat untuk melihat Telaga Warna.
Saat ini minat para wisatawan sangatlah tinggi untuk menjadikan Dieng sebagai tempat favorite mengisi liburan mereka maka tak heran saat tanggal merah atau weekend tiba Dieng dipenuhi banyak wisatawan. Makanya mereka semua mempunyai keinginan yang sama untuk melihat aneka obyek wisata Dieng seperti Telaga dari tempat yang istimewa. Ada 2 tempat istimewa untuk melihat Telaga Warna yakni Bukit Sidengkeng dan Batu Pandang. Nah Batu Pandang inilah yang memiliki trafik pengunjung paling banyak di banding dari Bukit Sidengkeng.

Bagaimana menuju ke Batu Pandang

Batu Pandang terletak masih di kawasan Dieng Plateau area. Batu Pandang berada dekat dengan obyek wisata indoor tempat melihat film dokumentasi tentang Dieng yakni Dieng Plateau Theater. Bahkan jalan menuju Batu Pandang juga ada yang langsung dari area parkir Dieng Theater. Disinilah Anda akan merasakan kesejukan serta kedamaian dan ada pengalaman yang tidak di dapat seseorang yang tinggal di kota-kota besar yang disana hanya menemukan bangunan-bangunan tinggi serta polusi.

Pemandangan apa yang tersaji

 
Anda akan menyusuri jalan setapak dengan kanan kiri jalan di penuhi perkebunan sayur mayur. Disitulah kita dapat mengetahui mana yang dinamakan tanaman kentang, seperti apa buah khas Dieng yang kondang sepanjang masa yakni carica, segarnya tanaman sayuran kubis, melihat secara detail tanaman khas Dieng seperti cabe raksasa Dieng yaitu cabe gendot serta cemilan enak tanaman kacang Dieng.
Untuk menuju Batu Pandang hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit saja. Meskipun perjalanan agak menanjak tidak akan jadi masalah bahkan Anda akan lupa dengan kelelahan karena panorma alam yang disajikan sungguhlah luar biasa. Kawah Sikidang dengan kepulan asap putih juga terlihat dari Gardu Pandang. Bebatuan vulkanik dengan aneka bentuk juga terlihat di sana bahkan seperti di negeri film Avatar. Pemandangan luar biasa akan Anda lihat saat menyaksikan dua telaga berbeda warna berdekatan yang hanya di batasi pepohonan lebat.
Pemandangan biasa sudah Anda dapatkan saat melihat dari tepian telaga akan tetapi pemandangan istimewa akan Anda saksikan disini. Ada beberapa titik yang akan memberikan keleluasaan bagi para pengunjung yang datang sehingga jika Anda hobi foto tidak akan terhalang oleh pengunjung lain. Warna dari Telaga Warna akan tampak kental dan pekat dengan warna dominan hijau saat siang hari tiba ketika sinar matahari penuh memantul ke permukaan air telaga. Disinilah di Batu Pandang Anda dapat berpose aneka gaya dengan background lanscape utama Telaga Warna, Telaga Pengilon, Gunung Prau. Jadikan liburan Anda ke Dieng lebih istimewa dengan mengunjungi tempat-tempat rekomendasi seperti Batu Pandang. Selamat berkunjung Dieng menanti Anda.

Monday, 14 September 2015

Keindahan Pesona Alam Desa Tertinggi di Pulau Jawa



Dieng tenar dengan sebutan negeri kahyangan yakni negerinya para dewa. Tidak sedikit orang-orang yang memang sengaja untuk datang singgah sementara untuk mengisi waktu-waktu senggang mereka untuk merefresh kembali baik jiwa maupun raga setelah sehari-hari berkecimpung di dunia kerja. Apalagi bagi Anda yang hidup di kota-kota besar. Dieng termasuk high land / dataran tinggi yang ada di Jawa Tengah. Ada banyak ragam pesona wisata yang mampu menggugah bagi semua yang datang. Sejak dahulu kala Dieng memang sudah terkenal sebagai tempat nyaman untuk beristirahat sejenak yaitu berekreasi. Ada banyak potensi-potensi alam yang menjadi daya tarik utama sehingga bisa mengundang siapa saja betah untuk tinggal walaupun sebentar. Perpaduan antara hawa udara dingin, sejuk, panorama alam yang tak terhingga indahnya, penduduk nan ramah, budaya yang masih kental. Saat ini Dieng mampu menyedot ribuan kawanan wisatawan baik dari dalam negeri maupun manca Negara. Dieng terbilang ramai ketika banyak di bicarakan oleh para awak media seperti pengaruh informasi media internet ataupun televisi yang tak henti-hentinya membicarakan keindahan alam Dieng. Sejak tahun 2012 akhir peminat berwisata ke daerah pegunungan seperti Dieng naik daun. Yakni di awali dengan adanya ragam potensi alam yang berada di desa tertinggi di Pulau Jawa.
Dimakah Letak Desa Tertinggi di Pulau Jawa


Banyak para wisatawan kagum saat pertama mendengar ada satu daerah atau pedesaan yang ternyata menjadi slogan desa tertinggi di Pulau Jawa. Tidak lain halnya ialah salah satu desa terujung di Kabupaten Wonosobo, Kecamatan Kejajar yaitu Desa Sembungan. Desa Sembungan terletak di ketinggian yang di kelilingi pegunungan-pegunungan tinggi. Desa sembungan Dieng memiliki ketinggian kurang lebih 2.345 mdpl. Desa Sembungan, Kejajar, Wonosobo sudah banyak di kenal orang karena mempunyai potensi wisata alam inti dan harus di kunjungi oleh siapapun bagi orang-orang yang sedang melawat ke Dieng.

Ragam Potensi apa yang ada di Desa Sembungan?

Dieng mulai ramai sejak di bukanya wisata baru yaitu wisata mengejar matahari terbit dari puncak Bukit Sikunir Dieng yang dikenal dengan Golden Sunrise Sikunir. Setiap week end maupun hari-hari libur jumlah pengunjung mencapai ribuan orang. Saat mereka mengunjungi Dieng, Sunrise Sikunir telah menjadi tempat wajib yang harus di kunjungi. Memang Bukit Sikunir merupakan titik terindah untuk melihat matahari terbit. Jika ingin melihat sunrise harus berjalan mendaki terlebih dahulu kurang lebih 30 menit saja. Waktu yang tidak terlalu lama dan sangatlah standard untuk hiking di pagi hari. Jangan salah tidak hanya Jakarta saja yang macet, saat musim liburan tiba untuk mendaki Bukit Sikunirpun terkena macet. Meskipun banyak pengunjung Anda dapat memilih tempat-tempat yang bagus untuk melihat matahari terbit karena areanya berbukit-bukit jadi kebanyakan mereka juga bisa menyaksikan bersama-sama. Tidak hanya Golden Sunrise Sikunir saja yang dapat Anda saksikan ketika mengunjungi desa tertinggi di Pulau Jawa ini. Deretan pegunungan indah serta perumahan penduduk yang ada di bawah bukit juga dapat Anda saksikan. Desa Sembungan memiliki potensi alam lainnya yakni Telaga Cebong. Disinilah Anda dapat mendirikan tenda-tenda/camping. Telaga Cebong juga sangat cantik jika di lihat dari Puncak Bukit Sikunir karena memang telaga ini terletak di kaki bukit. Jangan sungkan untuk berbaur dengan penduduk local Desa Sembungan. Mereka akan menyambut hangat kedatangan Anda dengan logat Dieng khas dan mungkin jangan sampai terlewatkan juga untuk mencicipi kuliner khas yang ada seperti carica, purwaceng atau kentang Dieng. Semua akan tersaji untuk Anda.

Friday, 4 September 2015


Sunset Dataran Tinggi Dieng

Selain tempat untuk berburu keindahan alam dan matahari terbit di bukit Sikunir, Dataran tinggi Dieng juga merupakan tempat yang pas untuk memburu pemandangan matahari terbenam yang eksotis. Dari negeri di atas awan tepatnya berada di Gunung Prau, Anda bisa melihat pemandangan yang spektakuler sepanjang mata memandang.

Dieng merupakan sebuah dataran tinggi yang terkenal di Pulau Jawa. Selain banyaknya situs bersejarah yang tertinggal di dataran tinggi itu, keindahan alam Dieng merupakan pesona yang tiada duanya. Salah satunya adalah Gunung Prau, yang menurut sejarah letusan Gunung Prau merupakan kejadian alam yang membentuk dataran tinggi Dieng.


Ada dua jalur pendakian untuk menuju puncak Gunung Prau, yaitu melalui Desa Patak Banteng dan melalui Desa Dieng. Umumnya para pendaki memilih jalur Patak Banteng karena memiliki jarak tempuh yang lebih singkat. Untuk menikmati sensasi yang berbeda, dalam kesempatan ini saya dan teman-teman memilih melewati jalur melalui Desa Dieng.

Diawali dengan menyusuri ladang milik penduduk setempat kami pun masuk ke dalam kawasan hutan dengan jalan menanjak. Waktu yang dibutuhkan sampai ke puncak melalui jalur ini adalah 3-4 jam. Bagi para pendaki pemula jalur ini cukup mudah dilewati, dari jalur ini kita bisa melihat lanskap dataran tinggi Dieng dengan telaga warna dan komplek Candi Arjuna dari atas.


Dalam perjalanan kami menikmati sunset yang sangat indah, dari kejahuan terlihat puncak Gunung Selamet dihiasi hamparan awan. Sunset hanyalah awal dari keindahan yang disuguhkan Gunung Prau. Gunung ini terletak di perbatasan kabupaten Kendal dan Wonosobo, dengan ketinggian 2.565 mdpl.


Ketika malam hari, kita bisa menikmati keindahan lampu-lampu di Dieng yang langsung dipadukan dengan gemerlap bintang-bintang di langitnya. Selain itu, dari area camping ground kami juga memiliki pemandangan yang memanjakan mata. Bukit-bukit dengan rumput hijau dan langit yang biru, area ini biasa disebut Bukit Teletubbies.

Sunrise adalah puncak dari keindahan Gunung Prau, di mana Anda bisa menikmati beberapa puncak gunung sekaligus dari sini. Gunung kembar, Sindoro (3.150 mdpl) dan Sumbing (3.317 mdpl). Kedua gunung ini sering disebut gunung kembar karena sepintas gunung tersebut memang terlihat sama.


Selain kedua puncak tersebut, puncak Gunung Slamet (3.428 mdpl), puncak Merbabu (3.142 mdpl), puncak Gunung Merapi (2.968 mdpl) dan puncak Lawu (3.265 mdpl) juga dapat terlihat jika cuaca cerah

Wednesday, 2 September 2015

  7 Pesona Alam Dataran Tinggi Dieng

Negeri di atas awan. Surga tersembunyi di Pulau Jawa. Dua kalimat inilah yang sering ditujukan untuk menggambarkan keindahan Dataran Tinggi Dieng. Bagi para pencinta alam, Anda wajib memasukkan Dataran Tinggi Dieng ke daftar tempat yang wajib Anda kunjungi. Nah, berikut tujuh tempat di Dieng yang sudah terkenal karena keindahannya.

1. Telaga Warna



Daya tarik dari Telaga Warna ini tentunya adalah warnanya. Sekali waktu Anda bisa melihat telaga ini berwarna hijau, di waktu yang lain menjadi warna kuning, pink, biru, dan warna-warna pelangi. Fenomena ini dapat terjadi karena air di telaga ini memiliki kandungan sulfur (belerang) yang cukup tinggi. Saat tertimpa cahaya matahari, air di Telaga Warna akan terlihat berwarna-warni. Telaga Warna ini dikelilingi oleh bukit-bukit tinggi yang menambah pesona keindahannya. Waktu terbaik untuk mengunjungi Telaga Warna adalah pagi hingga siang hari. Di sore hari, kabut kerap kali turun sehingga menghalangi pemandangan indah Telaga Warna. Telaga Warna berlokasi di Dieng Wetan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

2. Bukit Sikunir





Bukit Sikunir adalah salah satu lokasi terbaik di dunia untuk melihat sunrise, walaupun belum setenar Bromo. Para wisatawan dapat melakukan trekking di jalan setapak yang cukup berbatu untuk mencapai puncak Bukit Sikunir. Demi keamanan sebaiknya Anda menggunakan pemandu saat mendaki Bukit Sikunir. Apalagi karena di sisi kiri jalan terdapat jurang yang cukup dalam. Suhu udara yang berkisar 10 – 15 derajat Celcius juga menjadi tantangan tersendiri. Namun segala perjuangan ini dijamin akan terbayar saat kita menyaksikan langit yang kuning keemasan saat matahari terbit. Waktu yang paling tepat untuk melihat matahari terbit di Bukit Sikunir adalah pada musim kemarau sekitar bulan Juli-Agustus.

3. Kawah Sikidang

 


Kawah Sikidang


Konon, kawah ini memiliki hobi berpindah-pindah tempat. Kawah Sikidang adalah adalah salah satu kawah vulkanik yang masih aktif hingga saat ini. Hijaunya alam Dieng serta-merta lenyap saat Anda memasuki kawasan Kawah Sikidang ini, berganti dengan hamparan tanah tandus. Pengunjung harus berhati-hati saat mengunjungi Kawah Sikidang. Lubang bekas kawah terdapat di mana-mana, di beberapa tempat tanahnya basah dengan air yang bergolak mendidih. Tanah-tanah ini sangat berbahaya bila terinjak karena kita bisa terperosok. Dan di ujung kompleks, sebuah kolam besar dengan air yang bercampur lumpur abu-abu terus menggelegak dan mengepulkan asap putih. Sebuah pagar bambu dibangun untuk menjadi pengaman. Bau belerang tajam menyengat. Indah, namun berbahaya. Mungkin itulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan Kawah Sikidang.

4. Sumur Jalatunda


sumur jalatunda


Jangan bayangkan sumur bulat dari batu dengan kerekan timba. Sumur yang terletak di esa Wisata Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara ini memiliki diameter 90 meter. Diduga, Sumur Jalatunda merupakan sebuah kepundan yang terbentuk dari letusan gunung berapi jutaan tahun yang lalu. Kawah atau kepundan ini lalu terisi air sehingga bentuknya menyerupai sumur. Untuk menikmati pesona Sumur Jalatunda, pengunjung sebelumnya harus mendaki 257 anak tangga terlebih dahulu. Hal lain yang membuat Sumur Jalatunda ini menarik adalah mitos bahwa bila kita berhasil melempar batu ke sumur, maka permohonan kita akan terkabul. Namun batunya bukan sembarang batu. Batunya haruslah batu kerikil beralas karung yang dijual oleh anak-anak di sekitar lokasi sumur. Sedikit trik wisata untuk menarik pengunjung, mungkin?

5. Bukit Teletubbies /Gunung Prau



                                                           Bukit Teletubbies Gunung Prau



                                                             Padang Bunga Gunung Prau


Padang Bunga Gunung Prau

Ingat Tinky Winky, Dipsy, Lala dan Po? Ingat bagaimana Teletubbies berlarian di bukit-bukit? Dieng memiliki Bukit Teletubbies di puncak Gunung Prau. Gunung Prau merupakan puncak tertinggi di daerah Pegunungan Dieng (2.500 mdpl) dengan keindahan yang luar biasa dibandingkan bukit-bukit di sekitarnya. Lautan bunga-bunga liar semacam bunga aster tumbuh di hamparan hijaunya bukit. Bukit-bukit kecil pun tersebar dari utara hingga selatan. Bukit-bukit kecil inilah yang disebut sebagai Bukit Teletubbies. Puncak Gunung Prau pun menjadi spot yang sangat menarik untuk melihat sunrise ataupun sunset.

6. Candi Arjuna





Kompleks Candi Arjuna merupakan candi hindu tertua di Pulau Jawa. Candi Arjuna diperkirakan dibangun pada tahun 809 M dan merupakan tempat pemujaan Dewa Siwa. Kompleks Candi Arjuna ditemukan kembali oleh seorang tentara Inggris bernama Van Kinsbergen pada tahun 1814. Candi ini ditemukan dalam kondisi terendam di air rawa-rawa. Proses pengeringannya baru dilakukan 40 tahun kemudian. Candi-candi ini kemudian diberi nama sesuai dengan tokoh pewayangan oleh penduduk sekitar. Candi utamanya adalah Candi Arjuna. Candi Arjuna ini berhadapan dengan Candi Semar. Sedangkan di sebelah kiri Candi Arjuna berjajar Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra. Salah satu keunikan lainnya di Candi Arjuna ini adalah tanah berumput di sekeliling candi terasa empuk dan membal. Rasanya seperti berjalan di atas busa. Hal itu disebabkan kandungan air yang tinggi di tanah sekeliling candi yang dulunya adalah rawa-rawa.

7. Telaga Menjer




Telaga Menjer memang masih kalah pamor dibandingkan Telaga Warna. Namun Telaga Menjer memiliki kecantikan yang sangat sayang bila kita lewatkan. Berada di kaki pegunungan Dieng, Telaga Menjer juga menawarkan kedamaian pada setiap pengunjungnya. Hawanya sejuk dan suasananya sunyi. Sesekali yang terdengar hanyalah kicauan burung. Di Telaga Menjer kita dapat menaiki perahu-perahu kecil sembari menikmati keindahan alam nan eksotis. Kita juga dapat mencoba memancing. Telaga Menjer ini juga digunakan untuk PLTA.

Klikers, itulah 7 pesona alam Dataran Tinggi Dieng. Menyaksikan keindahan alam Dieng akan membuat Anda semakin menyadari betapa indahnya bumi Indonesia ciptaan Tuhan kita. Karena itu kita harus senantiasa menjaga kelestariannya. Mari menjelajah keindahan alam Indonesia.

#ExploreIndonesia

Hubungi Kami

Kelik Alamsyah 085 226 645 669 Aman Santoso 081 227 114 655 Edwin Adi Kurniawan 085 602 045 549
Powered by Blogger.

Popular Posts